Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Menurut definisinya, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Ada dua tujuan mengapa perlu diselenggarakan pendidikan anak usia dini, yaitu:

  • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
  • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Teori perkembangan Konitif Piaget

Ada tiga tahapan perkembangan kognitif anak menurut piaget, yaitu :

  • Pertama, tahap sensori motorik (usia 0 – 2 tahun) anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.
  • Kedua, tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai simbol-simbol, (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat ego centris, melihat sesuatu dari dirinya (perception centration), yaitu melihat sesuatu dari satu ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan.
  • Ketiga, tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak memahami dan berfikir yang bersifat kongkrit belum abstrak.
  • Keempat, tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu berfikir abstrak.

Keberhasilan anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. Usia dini merupakan “usia emas” bagi seseorang, artinya bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya.

Iklan

Add a comment Juni 17, 2010

MODEL BERMAIN PERAN (Role Playing)

Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi. Untuk kepentingan tersebut, sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui peran, peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih. Selama pembelajaran berlangsung, setiap pemeranan dapat melatih sikap empati, simpati, rasa benci, marah, senang, dan peran lainnya. Pemeranan tenggelam dalam peran yang dimainkannya sedangkan pengamat melibatkan dirinya secara emosional dan berusaha mengidentifikasikan perasaan dengan perasaan yang tengah bergejolak dan menguasai pemeranan. Pada pembelajaran bermain peran, pemeranan tidak dilakukan secara tuntas sampai masalah dapat dipecahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa kepenasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan ke luar. Dengan demikian, diskusi setelah bermain peran akan berlangsung hidup dan menggairahkan peserta didik.
Hakekat pembelajaran bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Melalui bermain peran dalam pembelajaran, diharapkan para peserta didik dapat (1) mengeksplorasi perasaannya; (2) memperoleh wawasan tentang sikap, nilai, dan persepsinya; (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi; dan (4) mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.
Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
a. Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.
b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.

c. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.

d. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.
Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni (1) kualitas pemeranan, (2) analisis dalam diskusi, (3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata.
Menurut Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran: (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, (2) memilih partisipan/peran, (3) menyusun tahap-tahap peran, (4) menyiapkan pengamat, (5) pemeranan, (6) diskusi dan evaluasi, (7) pemeranan ulang, (8) diskusi dan evaluasi tahap dua, (9) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Kesembilan tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, menjelaskan masalah, menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu, serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. Masalah dapat diangkat dari kehidupan peserta didik, agar dapat merasakan masalah itu hadir dihadapan mereka, dan memiliki hasrat untuk mengetahui bagaimana masalah yang hangat dan actual, langsung menyangkut kehidupan peserta didik, menarik dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik, serta memungkinkan berbagai alternative pemecahan. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru.
Memilih peran dalam pembelajaran, tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran. Jika para peserta didik tidak menyambut tawaran tersebut, guru dapat menunjuk salah seorang peserta didik yang pantas dan mampu memerankan posisi tertentu.
Menyususn tahap-tahap baru, pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini, tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Guru membantu peserta didik menyiapkan adegan-adegan dengan mengajukan pertanyaan, misalnya di mana pemeranan dilakukan, apakah tempat sudah dipersiapkan, dan sebagainya. Persiapan ini penting untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik, dan mereka siap untuk memainkannya.
Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya.
Menurut Sharfel dan Shaftel (1967), agar pengamat turut terlibat, mereka perlu diberi tugas. Misalnya menilai apakah peran yang dimainkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Bagaimana keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran? Apakah pemeran dapat menghayati peran yang dimainkan? Tahap pemeranan, pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Merka berusaha memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya. Mungkin proses bermain peran tidak berjalan mulus karena para peserta didik ragu dengan apa yang harus dikatakan akan ditunjukkan. Shaftel dan Shfatel (1967) mengemukakan bahwa pemeranan cukup dilakukan secara singkat, sesuai tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah peserta didik yang dilibatkan, tak perlu memakan waktu yang terlalu lama. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup, dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Adakalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. Sebaliknya pemeranan dihentikan pada saat terjadinya pertentangan agar memancing permasalahan untuk didiskusikan.
Diskusi dan evaluasi pembelajaran, diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara emosional maupun secara intelektual. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan, para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Diskusi mungkin dimulai dengan tafsirkan mengenai baik tidaknya peran yang dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang ditampilkan, apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternative pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya.
Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. Para peserta didik menyetujui cara tertentu untuk memecahkan masalah, meskipun dimungkinkan adanya peserta didik yang belum menyetujuinya. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang pasti dalam menghadapi masalah kehidupan. Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan, tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan temannya. Mareka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Hal ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling tukar pengalaman. Proses ini mewarnai seluruh kegiatan bermain peran, yang ditegaskan lagi pada tahap akhir. Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman dan sebagainya. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan.
Pembelajaran partisipatif memiliki prinsip tersendiri dalam kegiatan belajar dan kegiatan pembelajaran. Prinsip dalam kegiatan belajar adalah bahwa peserta didik memiliki kebutuhan belajar, memahami teknik belajar, dan berperilaku belajar. Prinsip dalam kegiatan membelajarkan bahwa pendidik menguasai metode dan teknik pembelajaran, memaham materi atau bahan belajar yang cocok dengan kebutuhan belajar, dan berperilaku membelajarkan peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut dijabarkan dalam langkah operasional kegiatan pembelajaran, sebagai wujud interaksi dukasi antara pendidik dengan peserta didik dan/atau antar peserta didik. Pendidik berperan untuk memotivasi, menunjukkan, dan membimbing peserta didik supaya peserta didik melakukan kegiatan belajar. Seangkan peserta didik berperan untuk mempelajari, mempelajari kembali, memecahkan masalah guna meningkatkan taraf hidup dengan berpikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya.

Add a comment Juni 17, 2010

Hakekat dan Metode Pembelajaran Keaksaraan Fungsional

  1. 1. Pengertian Keaksaraan Fungsional

Keaksaraan fungsional terdiri dari dua unsur, yaitu keaksaraan dan fungsional. Keaksaraan secara sederhana diartikan sebagai kemampuan untuk membaca, menulis, dan menghitung. Menurut Napitupulu (1998:4) mengatakan keaksaraan didefinisikan secara luas sebagai pengetahuan dasar dan keterampilan yang diperlukan oleh semua. Lebih lanjut dikatakan bahwa keaksaraan merupakan keterampilan yang diperlukan pada dirinya dan salah satu fondasi bagi keterampilan-keterampilan hidup yang lain. Keaksaraan adalah kemampuan seseorang dalam membaca, menulis dan berhitung. Seseorang yang buta aksara adalah orang yang tidak dapat membaca, menulis dan berhitung dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang melek huruf adalah orang yang dapat membaca maupun menulis kalimat sederhana dan berhitung.

Istilah fungsional berkaitan erat dengan fungsi dan tujuan dilakukannya pembelajaran di dalam pendidikan keaksaraan, serta adanya jaminan bahwa hasil belajarnya benar-benar bermakna dan bermanfaat untuk meningkatkan mutu kehidupan. Fungsional di sini juga bermakna warga belajar dapat memanfaatkan hasil belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan keaksaraan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

  1. 2. Metode Pembelajaran Keaksaraan Fungsional

Banyak variasi metode yang dapat digunakan tutor dalam membelajarkan warga belajar. Ketepatan penggunaan beberapa metode dan teknik pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan dasar yang sudah dimiliki warga belajar serta minat dan kebutuhan warga belajar. Oleh karena itu, keanekaragaman metode dapat digunakan sesuai dengan situasi, kondisi, minat dan kebutuhan warga belajar. Ada beberapa hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam memilih metode tertentu yaitu: (1) tujuan yang ingin dicapai, (2) karakteristik materi pembelajaran, (3) kemampuan pendidik, (4) waktu yang tersedia, dan (5) jumlah peserta (Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Keaksaraan, 2006: 11-12).

Beberapa metodologi pembelajaran yang dapat digunakan oleh tutor dalam pendidikan keaksaraan fungsional antara lain adalah:

  1. Metode Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB)

Metode PPB merupakan cara pembelajaran keaksaraan (baca-tulis) berdasarkan pengalaman. Warga belajar membaca dan menulis melalui proses membuat bahan belajar yang berasal dari ide atau kalimat yang diucapkan oleh warga belajar sendiri, bukan dari tutor.

  1. Metode Struktur Analisis Sintesis (SAS)

Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) adalah suatu cara atau teknik membelajarkan masyarakat buta aksara dengan membaca dan menulis yang menekankan pada struktur kalimat (SPO) terlebih dahulu dengan mengurai menjadi bagian-bagian kata, suku kata dan huruf serta merangkai kembali menjadi suku kata, kata, dan kalimat (Suka, 2006: 1).

  1. Metode Suku Kata

Metode suku-kata sangat efektif untuk membantu warga belajar yang buta huruf murni. Konsep utama dalam metode ini adalah mempelajari suku-kata, suku-kata tertentu yang sering dilafalkan dan memiliki makna yang jelas, dengan prinsip mengulangi, menghafal, dan melatih tentang semua huruf konsonan maupun vokal yang membentuk suku-kata tersebut (Puspawati, 2006: 1-2).

  1. Metode Abjad

Metode abjad merupakan metode pembelajaran yang menggunakan media “Poster Abjad” dan “Kamus Abjad”. Poster abjad digunakan sebagai media pembelajaran untuk membantu warga belajar mengerti bagaimana cara mengingat huruf, ejaan, dan kata-kata baru. Poster abjad juga bisa memudahkan warga bealajar untuk membuat kamus abjad. “Kamus Abjad” adalah media pembelajaran untuk membantu warga belajar dalam menyusun kata-kata yang dipelajari melalui poster abjad, metode PPB, SAS dan kegiatan.

  1. Metode Transliterasi

Metode transliterasi adalah mengalihkan tulisan (huruf dan angka) dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Mengingat sebagian warga belajar (terutama di komunitas masyarakat muslim) sudah mengenal angka “Arab”, namun mereka masih buta aksara latin, maka dalam metode transliterasi ini adalah mengalihkan dari huruf dan angka Arab ke huruf dan angka latin. Metode ini cukup membantu warga belajar buta huruf latin, tetapi mereka sudah memiliki sedikit kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dengan menggunakan huruf Arab. Konsep utama dalam metode transliterasi adalah menyamakan ucapan bunyi huruf atau aksara Arab dengan aksara latin. Dalam hal ini warga belajar mempelajari kata-kata yang bunyinya hampir sama dan menulisnya dengan huruf Arab.

  1. Metode Kata Kunci

Metode kata kunci adalah salah satu metode pembelajaran membaca dan menulis dengan menggunakan kata-kata kunci. dan tema-tema penggerak yang dikenal oleh warga belajar dan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Alasan penggunaan kata kunci dan tema penggerak adalah pentingnya menghubungkan kemampuan baca-tulis dengan kehidupan nyata sehari-hari warga belajar.

  1. 3. Kegiatan Pembelajaran Keterampilan Fungsional

Kegiatan pembelajaran keterampilan fungsional diarahkan pada pemberian keterampilan yang bersifat ekonomi produktif dan keterampilan sosial. Keterampilan fungsional menjadi tekanan pada kegiatan pendidikan keaksaraan fungsional karena sebagian besar warga belajar sasaran program penuntasan buta aksara adalah masyarakat miskin, sehingga secara ekonomi perlu diberdayakan. Bentuk pembelajaran keterampilan fungsional harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan warga belajar, serta bersifat fungsional seperti menjahit dan membuat kue. Sedangkan aspek keterampilan sosial antara lain adalah membangun jaringan kerja dengan dinas, instansi, lembaga, atau pihak-pihak lain dengan maksud untuk memfungsikan keaksaraannya, mendapatkan informasi, dan memanfaatkan peluang bagi upaya peningkatan kualitas ekonomi warga belajar.

Pada tulisan ini, yang kami maksud dengan fungsional yaitu berhubungan erat dengan kemampuan warga belajar yang akan menerapkan hasil dari proses belajar keaksaraan dalam kehidupan sehari-hari serta dapat meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan kecakapan melek aksara untuk membangun kepercayaan diri dan mengembangkan potensi dalam dirinya guna memenuhi taraf hidupnya sehingga tetap survive (bertahan) dalam lingkungan masyarakat yang ada. Misalnya, membaca bacaan (koran, buku, majalah) yang sangat berguna dalam aktivitas mereka sehari-hari yang hidup sebagai petani, pedagang, dan lain-lain.

  1. 4. Prinsip-prinsip Pembelajaran Keaksaraan Fungsional

Sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa, ada empat prinsip utama dalam program keaksaraan fungsional yang dikembangkan berdasarkan perspektif baru pendidikan orang dewasa, yaitu konteks lokal, desain lokal, proses partisipatif, dan penerapan hasil belajar (Kroeker dan Henrich, 1993:24). Menurut Bloome dan Green (1992:58) konteks pembelajaran keaksaraan fungsional meliputi konteks sosial budaya, konteks interpersonal dan konteks historis. Prinsip-prinsip tersebut dijabarkan secara operasional dalam pedoman Tutor Keaksaraan Fungsional yang dikembangkan oleh Tim Keaksaraan Fungsional sebagai berikut :

  1. Konteks lokal

Program keaksaraan fungsional dikembangkan berdasarkan konteks lokal, artinya kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan, berdasarkan pada minat dan kebutuhan warga belajar berkaitan dengan potensi yang ada di sekitarnya. Untuk mengetahui konteks lokal tersebut di atas, perlu dilakukan observasi lingkungan keaksaraan. Tutor dan warga belajar perlu mengobservasi lingkungan sekitarnya, guna mencari dan mengumpulkan informasi untuk kegiatan belajarnya. Observasi lingkungan keaksaraan bertujuan untuk mencari potensi, masalah-masalah, dan sumber-sumber pemecahannya yang berkaitan dengan situasi, kondisi, warga belajar.

  1. Desain Lokal

Keaksaraan fungsional didasarkan pada kebutuhan, masalah dan potensi lingkungan setempat serta pihak-pihak yang terlibat dalam program keaksaraan fungsional perlu membuat desain lokal. Tutor perlu merancang kegiatan belajar mengajarnya, berdasarkan respon atas minat, kebutuhan, masalah. Dalam hal ini tutor bersama warga belajar perlu membuat dan menetapkan kurikulum tersendiri yang mudah dan fleksibel berdasarkan kesepakatan bersama. Kurikulum dalam program keaksaraan fungsional adalah semacam rencana belajar, yang intinya adalah bagaimana membantu warga belajar dan tutor mencari dan menulis informasi untuk menyusun, menetapkan dan melaksanakan kegiatan belajar berdasarkan kebutuhan lokal.

  1. Proses partisipasi

Proses partisipasi, maksudnya adalah bagaimana cara melibatkan warga belajar berpartisipasi secara aktif dalam mengumpulkan, menganalisis, menyimpulkan, dan memformulasikan ide atau informasi yang telah dimiliki warga belajar. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh tutor dengan merangsang warga belajar untuk diskusi dengan cara: 1) membuat pertanyaan, 2) melakukan tanya jawab tentang pengalaman warga belajar, 3) menulis cerita atau pengetahuan lokal, 4) membuat peta masalah lingkungan 5) membuat tabel tentang kegiatan-kegiatan warga belajar dan sebagainya.

d.   Penerapan hasil belajar

Hal utama dalam menentukan keberhasilan pogram keaksaraan fungsional, adalah dengan cara meningkatkan kemampuan dan keterampilan setiap warga belajar dalam memanfaatkan dan memfungsikan keaksaraan atau hasil belajarnya dalam kegiatan sehari-hari. Dari hasil belajar, mereka diharapkan dapat menganalisis dan memecahkan masalah untuk meningkatkan taraf hidupnya.

  1. 5. Kriteria, Peran dan Tugas Tutor dalam Keaksaraan Fungsional

Peran tutor dalam pendidikan orang dewasa berbeda dengan peran guru di dalam pendidikan anak dan remaja di sekolah. Dalam pendidikan orang dewasa, tutor lebih berperan sebagai fasilitator yang membantu dan mempermudah orang dewasa dalam belajar. Tutor tidak mentransfer pengetahuannya kepada warga belajar akan tetapi lebih menekankan pada hubungan personal antara fasilitator dan warga belajar. Tutor sebagai fasilitator dalam pembelajaran orang dewasa lebih berfungsi sebagai sumber belajar dari pada sebagai pengajar/instruktur yang mempunyai segala macam jawaban dari persoalan warga belajar.

Menurut Knowles (1990:38), tutor sebagai fasilitator perlu memperhatikan hal-hal berikut: 1) menekankan suatu suasana yang kondusif untuk belajar, 2) menciptakan mekanisme untuk perencanaan yang saling menguntungkan, 3) mendiagnosis kebutuhan-kebutuhan untuk pembelajaran, 4) memformulasikan tujuan program yang dapat memenuhi/memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut, 5) mendesain pola belajar berpengalaman, 6) mengarahkan belajar berpengalaman dengan metode dan bahan belajar yang sesuai, 7) mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis ulang kebutuhan belajar selanjutnya.

Program keaksaraan fungsional tidak berdasarkan paket bahan belajar yang dikembangkan berdasarkan standar nasional. Oleh karena itu, tutor harus mengetahui latar belakang warga belajar, mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan warga belajar dalam kegiatan membaca, menulis dan berhitung. Berdasarkan hal tersebut dikembangkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan individu maupun kelompok. Menurut Kroeker dan Henrichs (1993:25), tutor harus mengembangkan sikap saling percaya dengan warga belajar.

Add a comment Juni 17, 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 komentar Juni 17, 2010

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Juli 2018
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts